DKP Prov. Jateng

Artikel

POTENSI TERUMBU KARANG BUATAN METODE BIOREEFTEK DI PESISIR SELATAN PROVINSI JAWA TENGAH


31 Maret 2021 pukul 07:47


POTENSI TERUMBU KARANG BUATAN METODE BIOREEFTEK  DI PESISIR SELATAN PROVINSI JAWA TENGAH

Terumbu karang merupakan ekosistem yang mempunyai peran signifikan. Secara ekologis, terumbu karang merupakan tempat bagi biota untuk berpijah, mencari makan dan tempat berlindung. Terumbu karang memiliki fungsi ekonomis yaitu potensi wisata bahari khususnya ekowisata terumbu karang, serta fungsi keseimbangan pantai yang dapat menjadi barrier/pemecah gelombang alami. Menurut hasil penelitian Pusat Pengembangan Oseanologi (P2O) LIPI yang dilakukan pada tahun 2000, kondisi terumbu karang Indonesia 41,78% dalam keadaan rusak, 28,30% dalam keadaan sedang, 23,72% dalam keadaan baik, dan 6,20% dalam keadaan sangat baik. (LIPI, 2015)

Diperlukan upaya bersama untuk meningkatkan kualitas dan menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang, salah satu upaya adalah melalui pembuatan terumbu karang buatan. Fungsi terumbu karang buatan adalah untuk meningkatkan kekayaan kehidupan laut dengan memberikan (Hutomo, 1991):

  1. Naungan terhadap arus yang kuat dan tempat berlindung terhadap pemangsaan bagi ikan;
  2. Substrat untuk menempel berbagai biota;
  3. Sumber makanan dalam bentuk algae dan organisme penempel atau menjalar lainnya maupun ikan-ikan kecil dan invertebrata yang biasa hidup bersamanya;
  4. Tempat asuhan dan memijah
  5. Sebagai titik orientasi bagi beberapa organisme pelagis.

Terumbu karang buatan dapat dibuat menggunakan beberapa bahan dan metode seperti ban bekas, pipa paralon, substrat beton hingga bahan yang ramah lingkungan dan murah degan menggunakan limbah batok kelapa atau biasa disebut dengan metode Bioreeftek, dengan bentuk sebagaimana terlihat pada Gambar 1.

 

Menurut laman BPOL, Bioreeftek adalah salah satu jenis terumbu karang buatan yang telah dikembangkan BROL sejak tahun 2008. Disebut bioreeftek karena batok kelapa menjadi substrat dasar atau media penempelan larva planula karang untuk perkembangan alami karang individu baru. Selain efisien, tempurung kelapa ini juga sangat mudah diperoleh mengingat sepanjang pesisir Indonesia banyak ditumbuhi oleh pohon kelapa.

Pemanfaatan ‘limbah’ tempurung kelapa untuk terumbu buatan ini merupakan upaya untuk mendorong dan merangsang masyarakat pesisir berpartisipasi menjaga dan merehabilitasi ekosistem terumbu karang dengan metode yang mudah diaplikasikan dan tidak memerlukan biaya yang banyak. Menurut laman mongabay, teknologi terumbu karang buatan Bioreeftek telah dilakukan pada beberapa lokasi untuk kegiatan rehabilitasi dan konservasi terumbu karang buatan di Indonesia, diantaranya:

  1. Di perairan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali (2008- sekarang);
  2. Di perairan Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali (2008 – sekarang);
  3. Di perairan Gili Lawang dan Gili Sulat, Kabupaten Lombok Timur (2008);
  4. Di perairan Kabupaten Alas, Sumbawa (diadopsi oleh SMK Negeri 1 ALAS)(2011);
  5. Di Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan, kerjasama DKP-Tanah Bumbu dan BPSPL serta BPOL (2010);
  6. Di Tablolong Nusa Tenggara Timur dan Waingapu, Sumba Timur – Pantai Londa Lima pada kegiatan IPTEKMAS (2009);
  7. Telah dibuat secara swakelola oleh Balai Taman Nasional Bunaken dan Dinas Provinsi Sulawesi Utara (2010);
  8. Diaplikasikan pada saat bimbingan teknis di Pulau Mandangin, Madura (Marine Care), diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan (HIMIKA) Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo & Direktorat Jenderal Teknis KP3K, KKP pada bulan Desember 2012;
  9. IPTEKMAS Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan di Taman Nasional Bali Barat dan di Perairan Lovina, Kabupaten Buleleng (2014);
  10. Di perairan Pulau Tikus, Bengkulu oleh Kelompok Pencinta Alam (KAMPALA) Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu (2014 dan 2018);
  11. Di perairan Desa Dikesare, Kabupaten Lembata, atas kerjasama antara PLAN Internasional, CIS Timor, serta PPB Kab. Lembata (2018).

 

Pesisir selatan Pulau Jawa cenderung memiliki karakter dasar perairan berupa lereng terjal yang mengarah ke Samudera Hindia dan tidak memiliki paparan sehingga energi gelombang yang tinggi dari Samudera Hindia tidak dapat tereduksi dan langsung menghantam pesisir selatan Jawa Tengah, karakteristik tersebut dapat menjadi hambatan dalam penanaman Bioreeftek.

Saat ini masih sedikit penelitian/kajian terkait ektefitas terumbu karang buatan khususnya di pesisir selatan Provinsi Jawa Tengah. Meilihat letak geografis terdapat dua Kabupaten yang masih memiliki potensi untuk dapat dilakukan penanaman Bioreeftek, yaitu Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Cilacap yang memiliki beberapa daerah pantai yang berada pada teluk. Kawasan perairan teluk biasanya banyak dimanfaatkan sebagai palabuhan karena teluk merupakan bagian pantai dengan ombak relatif kecil sehingga kapal yang berlabuh akan aman dari terpahan ombak besar. Begitu pula untuk kegiatan perikanan seperti Keramba Jaring Apung (KJA) dan kegiatan konservasi (Barus dkk, 2016). Adapun pantai tersebut adalah Pantai Karang Bolong, Pantai Watu Bale, Pantai Menganti dan Pantai Lohgending Kabupaten Kebumen seperti terlihat pada Gambar 2.

 

Diperlukan kajian dalam penentuan lokasi penanaman yang tepat agar terumbu karang buatan metode bioreeftek dapat berkembang dengan baik serta peran serta masyarakat untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekosistem terumbu karang yang sudah diamanatkan pada Pasal 5, 6 dan 7 Undang-Udang Nomor 23 tahun 1997.