DKP Prov. Jateng

Artikel

MANGROVE TUMBUHAN DI ZONA PASANG SURUT


31 Maret 2021 pukul 07:47


MANGROVE TUMBUHAN DI ZONA PASANG SURUT

Mangrove merupakan kelompok tumbuhan yang hidup di daerah pantai, beriklim tropis, bersubstrat lumpur, dan tahan terhadap salinitas (Chandra et al., 2011). Mangrove berada di wilayah intertidal, yaitu wilayah yang terjadi interaksi antara perairan laut, payau, sungai, dan terestrial. Interaksi ini membuat keanekaragaman hayati menjadi tinggi di ekosistem mangrove. Mangrove dapat hidup di daerah tropik dan subtropik. Tumbuhan tersebut berasosiasi dengan organisme lain seperti fungi, mikroba, alga, fauna, dan tumbuhan lain, dan berinteraksi pula dengan faktor abiotik seperti iklim, udara, tanah, dan air untuk membentuk ekosistem mangrove (Martuti et al., 2019).

Mangrove memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi ekstrim, seperti tanah yang tergenang, kadar garam tinggi, serta kondisi tanah yang kurang stabil. Beberapa jenis mangrove beradaptasi dengan cara mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan, dan ada pula yang mengembangkan sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya. Beberapa jenis mangrove berkembang dengan buah yang sudah berkecambah saat masih di pohon induknya (vivipar), seperti jenis Kandelia, Bruguiera, Ceriops dan Rhizophora (Noor et al., 2012).

Mangrove memiliki morfologi seperti pohon di daratan dan tergolong tumbuhan sejati. Berikut salah satu contoh morfologi mangrove.

Mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki peran penting. Ekosistem mangrove memiliki tingkat produktivitas paling tinggi dibandingkan ekosistem pesisir lain. Salah satu fungsi mangrove adalah menyerap bahan organik dan anorganik dari daratan yang menuju perairan (Nugrahanto et al., 2014).

Fungsi ekologis mangrove dari aspek fisika adalah adanya hubungan dengan ekosistem lain seperti padang lamun dan terumbu karang. Mangrove dengan sistem perakarannya yang kuat dan kokoh dapat meredam gelombang, menahan lumpur, dan melindungi pantai dari erosi. Dari aspek biologi, ekosistem mangrove berperan menjaga kestabilan produktivitas dan ketersediaan hayati wilayah pesisir sebagai daerah asuhan dan pemijahan biota. Mangrove juga berperan sebagai penyerap bahan pencemar serta pemasok bahan organik bagi lingkungan perairan. Mangrove dapat menyerap karbon di atmosfer serta menyimpannya dalam bentuk biomassa dan juga sedimen, sehingga mangrove sangat berperan dalam mitigasi perubahan iklim global (Ati et al. 2014).

Mangrove memiliki peran yang sangat penting dalam pengurangan emisi karbon di bumi. Stok karbon merupakan kemampuan mangrove dalam menyerap karbon dari atmosfer dan menyimpannya di daun, batang, akar, dan sedimen. Jumlah stok karbon yang tersimpan dipengaruhi oleh jenis mangrove, kerapatan, dan kesuburan sedimen. Pola penanaman juga berpengaruh terhadap jumlah stok karbon (Martuti et al., 2019).

Ekosistem mangrove bersifat dinamis, labil, dan kompleks. Ekosistem ini bersifat dinamis karena terus tumbuh, berkembang, mengalami suksesi, dan mengalami perubahan zonasi (Mughofar et al., 2018).

Secara alami, mangrove memiliki zonasi tertentu berdasarkan jenis yang cocok hidup di kondisi ekosistem mangrove. Zonasi mangrove dari laut ke darat secara umum terdiri atas zona Avicennia dan Sonneratia, zona Rhizophora dan Bruguiera, zona Lumnitzera, dan zona Nypa. Zonasi mempengaruhi peranan mangrove, baik secara fisik maupun ekologis, terutama terhadap kelangsungan hidup biota yang berasosiasi dengan mangrove (Candri et al., 2019).

Hutan mangrove di Indonesia merupakan hutan mangrove terluas di dunia, yaitu sekitar 4,25 juta Ha. Namun, laju kerusakan hutan mangrove di Indonesia juga sangat tinggi. Luas hutan mangrove di Indonesia diperkirakan telah berkurang 2,15 juta Ha dari total sebelumnya (Candri et al., 2019). Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian hutan mangrove, salah satunya dengan melakukan rehabilitasi.

Ada tiga kabupaten di selatan Jawa Tengah yang memiliki hutan mangrove, yaitu kabupaten Cilacap, kabupaten Kebumen, dan kabupaten Purworejo. Hutan mangrove Cilacap merupakan yang paling luas jika dibandingkan dua kabupaten lain. Hutan mangrove di kabupaten-kabupaten tersebut dijadikan obyek wisata, seperti Hutan Mangrove Karang Talun atau Hutan Payau Cilacap, Hutan Mangrove Kampung Laut Cilacap, Hutan Mangrove Ayah Kebumen, dan Taman Edukasi Mangrove Demang Gedi Purworejo.